Sebagai guru informatika di sebuah pondok pesantren putri, saya terbiasa berada di antara dua dunia yang berjalan berdampingan: dunia teknologi yang terus bergerak cepat, dan dunia pendidikan pesantren yang menekankan ketenangan, keteraturan, serta makna dalam proses belajar.
Karena itu, setiap kali berbicara tentang perangkat teknologi, saya selalu bertanya satu hal: sejauh mana teknologi ini benar-benar membantu pekerjaan guru, bukan hanya sekadar menjadi tren?
Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya menghadiri ASUS Gathering Makassar 2025, sebuah acara yang menjadi pengalaman pertama saya mencoba langsung ASUS Vivobook S14, laptop yang diperkenalkan sebagai bagian dari lini Laptop AI ASUS. Gathering yang bertajuk “Together We Win, Together We Grow” ini diadakan pada hari Kamis, 11 Desember 2025 di The Rinra Hotel dengan menghadirkan narasumber dari ASUS yang menjelaskan arah inovasi ASUS di tahun 2025, khususnya terkait pemanfaatan kecerdasan buatan.

Namun bagi saya, yang paling menarik justru bukan penjelasan dari narasumber atau informasi di press release, melainkan bagaimana laptop ini terasa saat disentuh dan digunakan.
Pengalaman Pertama Mencoba ASUS Vivobook S14
Saat memasuki ruangan, saya agak kaget saat melihat area display yang “sepi”, hanya ada 2 laptop yang terpajang di depan kami – para blogger – yang menghadiri gathering ini. Ternyata, di luar ruangan ada satu area yang lebih luas yang memajang ragam produk unggulan dari ASUS yang dirilis sepanjang tahun 2025 ini. Area display-nya terbagi ke dalam beberapa bagian yaitu : Area 45+ TOPS NPU, PC Area, Gaming Area dan Accessories Area.

Pertama kali memegang ASUS Vivobook S14 di area display, kesan awalnya sederhana: ringan, ramping, dan terlihat profesional. Bobotnya terasa pas untuk dibawa berpindah-pindah, sesuatu yang cukup penting bagi saya yang sering mengajar dari satu kelas ke ruang kelas yang lain.
Saya mencoba membuka beberapa aplikasi sekaligus—browser, dokumen, dan materi presentasi. Responsnya terasa cepat dan stabil, tanpa suara kipas yang mengganggu. Bagi saya yang terbiasa mengajar di lingkungan pesantren yang tenang, hal ini langsung menjadi nilai plus.
Laptop AI, Bukan Sekadar Istilah Teknis
Dari penjelasan narasumber, ASUS menegaskan posisinya sebagai penyedia solusi Laptop AI paling lengkap, dengan dukungan NPU hingga 45+ TOPS dan standar Copilot+ PC. Angka-angka ini tentu terdengar teknis, terutama bagi pengguna awam.
Saat mencoba memahami lebih jauh konsep Laptop AI, saya mulai menyadari peran penting Neural Processing Unit (NPU) dalam perangkat seperti ASUS Vivobook S14. NPU merupakan komponen khusus di dalam prosesor yang dirancang untuk menangani pemrosesan berbasis kecerdasan buatan. Karena jadi bagian dari prosesor, keberadaan NPU tidak bisa di-upgrade. Artinya, memilih laptop dengan kemampuan NPU yang memadai sejak awal merupakan keputusan jangka panjang, terutama jika laptop tersebut akan digunakan untuk mendukung aktivitas belajar dan bekerja dalam beberapa tahun ke depan.

Setelah mencoba langsung, saya mulai memahami maknanya dalam konteks sederhana. Laptop ini terasa “ringan diajak bekerja”. Membuka banyak tab, berpindah aplikasi, hingga mengolah dokumen terasa mengalir tanpa jeda yang mengganggu.
Sebagai guru informatika, saya melihat pendekatan ini sebagai contoh penerapan AI yang sehat: AI hadir untuk mendukung produktivitas manusia, tidak tampil mencolok, tidak mengambil alih peran manusia, tetapi bekerja di belakang layar untuk membuat proses belajar dan bekerja menjadi lebih efisien.
Relevan dengan Kebutuhan Guru dan Pelajar
ASUS Vivobook S14 diperkenalkan sebagai laptop AI yang mengutamakan efisiensi dan keseimbangan performa. Dalam konteks pekerjaan saya, ini terasa relevan. Aktivitas mengajar tidak hanya soal berdiri di depan kelas, tetapi juga membuat RPP, menyusun bahan ajar, menyiapkan materi presentasi, mengevaluasi hasil belajar, dan mengelola administrasi pembelajaran. Sesekali membuat konten edukatif sederhana untuk diposting di sosial media.
Berbicara soal budget, lini ASUS Vivobook menawarkan fleksibilitas yang menurut saya cukup ramah. Pendekatan ini menurut saya penting, terutama di dunia pendidikan, karena tidak semua pelajar atau pendidik membutuhkan spesifikasi yang sama. Tinggal menyesuaikan prioritas penggunaan dengan kemampuan dana yang tersedia.

Untuk pelajar, tersedia seri Vivobook 14 A1407CA, A1407QA, dan M1407KA yang meski berada di kelas terjangkau, tetap menghadirkan pengalaman laptop AI modern untuk mendukung aktivitas belajar sehari-hari.
Sementara itu, bagi mahasiswa atau pekerja yang membutuhkan laptop ringan dan efisien untuk aktivitas seharian, ASUS Vivobook S14 S3407QA dan S3407CA terasa menarik dengan desain ringkas dan daya tahan baterai yang panjang. Untuk kebutuhan yang lebih intens—seperti multitasking berat, pemanfaatan AI yang lebih aktif, atau pekerjaan kreatif ringan—ASUS Vivobook S14 M3407HA menawarkan performa yang lebih fleksibel dan siap mendukung produktivitas yang lebih kompleks.
Daya tahan baterai yang panjang—seperti yang disampaikan dalam sesi presentasi—memberi rasa aman untuk bekerja lebih lama tanpa terus mencari colokan listrik. Hal ini cukup penting, terutama ketika aktivitas mengajar dan persiapan materi sering kali berlangsung berurutan.
Teknologi dan Nilai di Lingkungan Pesantren
Di pesantren kami, penggunaan gawai diatur dengan sangat jelas. Santriyah tidak diperkenankan membawa smartphone atau laptop pribadi ke dalam lingkungan pondok. Namun, pembatasan ini tidak berarti menjauhkan mereka dari teknologi. Sebagai bentuk keseimbangan, pesantren menyediakan berbagai fasilitas pembelajaran digital seperti smartclass, lab komputer, kelas interaktif dengan smartboard, smartTV di ruang kelas, serta akses internet yang terkelola.
Dengan pendekatan ini, teknologi tetap hadir sebagai sarana belajar yang terarah, terkontrol, dan sesuai dengan nilai-nilai pesantren. Teknologi selalu ditempatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan pusat perhatian. Karena itu, saya cukup selektif dalam menilai perangkat digital. Laptop dengan layar nyaman, kinerja stabil, dan desain yang tidak berlebihan membantu menciptakan suasana belajar yang tertib dan fokus.
Dari pengalaman singkat mencoba Vivobook S14, laptop ini terasa sejalan dengan prinsip tersebut. Layar yang nyaman dan performa yang stabil membantu menciptakan suasana kerja yang tenang dan tertib, baik bagi guru maupun peserta didik.

Satu hal lain yang menurut saya penting, terutama dalam konteks penggunaan jangka panjang di dunia pendidikan, adalah garansi internasional 3 tahun dari ASUS. Dalam keseharian mengajar, laptop adalah perangkat yang hampir tidak pernah benar-benar “istirahat”—dipakai untuk menyiapkan materi, mengelola administrasi, hingga mendampingi aktivitas belajar peserta didik. Dengan durasi penggunaan seperti itu, perlindungan perangkat menjadi pertimbangan serius. Dibandingkan kebanyakan laptop lain yang hanya menawarkan garansi satu atau dua tahun, garansi tiga tahun ini memberi rasa aman tersendiri, seolah ASUS memang menyiapkan produknya untuk dipakai dalam ritme kerja yang panjang dan berkelanjutan.
Refleksi Seorang Guru Informatika tentang Laptop AI
Dalam press release, ASUS menyampaikan komitmennya menghadirkan teknologi AI premium yang bisa diakses lebih luas. Dari sudut pandang saya sebagai pendidik, ini bukan sekadar strategi pasar, tetapi peluang besar bagi dunia pendidikan. Ketika guru memiliki perangkat yang tepat, energi tidak habis untuk mengatasi kendala teknis, melainkan bisa difokuskan pada proses mendidik : pendampingan dan pembelajaran bermakna.
Mengajarkan informatika kepada peserta didik bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang cara berpikir kritis dan bertanggung jawab. Di titik ini, laptop AI seperti ASUS Vivobook S14 bisa menjadi contoh nyata bagaimana teknologi seharusnya hadir: membantu manusia bekerja lebih efektif, tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar pendidikan.
Aksesori “Perfect Pair” yang Melengkapi Pengalaman
Dalam rutinitas mengajar, ada momen-momen ketika saya harus duduk cukup lama di depan laptop—menyusun RPP, menyiapkan bahan ajar, mengevaluasi tugas atau merapikan administrasi pembelajaran. Di momen seperti itu, detail kecil justru terasa berarti. ASUS Fragrance Mouse menjadi salah satu aksesori yang memberi pengalaman berbeda. Mouse ini hadir dengan warna yang imut lucu, ramping nan pas di genggaman, dan uniknya, ada wangi-wanginyaaa hmm. Aroma lembut yang dihasilkan membantu menciptakan suasana kerja yang lebih tenang, terutama ketika pikiran mulai lelah akibat fokus berkepanjangan.

Menariknya, hal ini sejalan dengan temuan ilmiah yang menyebutkan bahwa aroma tertentu dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, termasuk membantu relaksasi, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan fokus saat mengerjakan tugas kognitif. Bagi saya, mouse yang bisa menebarkan wangi ini menjadi pasangan yang pas untuk Vivobook S14— sama-sama dirancang untuk mendukung ritme kerja yang panjang, tenang, dan berkelanjutan. Kombinasi laptop dan aksesori yang saling melengkapi membuat proses menyiapkan materi ajar terasa lebih nyaman dan tertata, bukan sekadar menuntaskan kewajiban.
Laptop yang Memahami Kebutuhan Penggunanya
ASUS Gathering Makassar 2025 memberi saya kesempatan untuk melihat lebih dekat arah teknologi ASUS dan mencoba langsung konsep Laptop AI yang ditawarkan. Dari pengalaman tersebut, ASUS Vivobook S14 meninggalkan kesan sebagai laptop yang seimbang: cerdas, ringan, dan tenang dalam bekerja. Bagi saya, teknologi terbaik bukan yang paling mencolok, tetapi yang mampu memahami kebutuhan penggunanya.
Pada akhirnya, harapan saya sederhana: semoga teknologi seperti ini benar-benar bisa menjadi jembatan bagi kami – pendidik dan peserta didik – untuk berani bermimpi lebih jauh. Bukan sekadar sebagai alat mengerjakan tugas, tetapi sebagai teman belajar yang membuka akses pada pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan masa depan.
Jika sejak dini peserta didik terbiasa menggunakan perangkat yang andal dan siap menghadapi perkembangan AI, saya percaya mereka tidak hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang kritis, adaptif, dan berdaya saing di era digital.

