Ngebloglah, tuliskan kisah perjalananmu. Demikian kata saya kepada seorang kawan di suatu malam saat kami jumpa-jumpa. Dia baru saja kembali dari salah satu perjalanannya dan mengontak saya untuk mengambil ole-ole tempelan kulkas dari beberapa negara.
Dengan mengupload foto di media sosial, kau (mungkin) hanya berbagi euforiamu. Tapi dengan menuliskannya di blog, kau bisa menebar manfaat kepada yang membutuhkan, kau bisa mengabadikan perjalananmu. Tidak semua destinasi familiar bagi setiap orang, pun tidak semua kondisi sama di setiap perjalanan.
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian – Pramoedya Ananta Toer
Saya bukan penulis ulung. Saya hanya senang berbagi kisah, mendokumentasikan perjalanan hidup yang kelak bisa diwariskan untuk anak. Saat manusia tiada, apalagi yang bisa dia tinggalkan selain tulisan? Tempat namanya tercatat dalam keabadian.
Tapi kak, saya nda bisa menulis.
Nda bisa atau nda biasa? Tidak ada yang tidak bisa menulis. Menulis adalah masalah kebiasaan. Perkara bagus tidaknya tulisan, itu adalah masalah yang lain lagi. Tulislah seperti kau berbicara, biarkan mengalir. EYD yang berantakan, kalimat yang tidak teratur, cerita antar paragraf yang berlompatan, ataupun pemilihan diksi, bisa dipelajari kemudian. Yang terpenting adalah mulailah menulis.
Bikin blognya susah kak?
Semudah kau membalikkan telapak tangan. Hanya bermodalkan email, ponsel dan koneksi internet, sudah bisa bikin blog. Dan dirimu punya 3 poin itu kan?
Banyak manfaat yang bisa kau dapatkan dengan menulis di blog. Tidak, saya tidak sekadar bicara saja karena ya saya sudah buktikan. Mengabadikan kisah, berbagi manfaat, memperluas jaringan, menjadikannyapenghasilan tambahan, bahkan bisa buat ketemu jodoh juga wkwkwkkwk. Ohya satu lagi, siapa yang tau kelak tulisanmu akan menjadi sumber inspirasi bagi seseorang, memberikan manfaat, bahkan menjadi amal jariyah buatmu.
Saya nda bisa menulis panjang-panjang kak.
Tidak ada yang mengharuskanmu menulis panjang. Awalilah dengan tulisan pendek, senyaman yang kau mampu. Percaya atau tidak, tulisan pertama yang saya buat di blog bertahun-tahun lalu hanya terdiri dari 11 kata. Menulis itu berproses, panjang pendeknya pun gaya penulisan yang menjadi ciri khasmu akan kau temukan kemudian.
Banyak orang yang mendaki gunung, banyak orang yang korespondensi tapi mengapa Soe Hoek Gie dan RA Kartini tetap dibincangkan dan dikenang bertahun kemudian? Mengapa namanya abadi? Karena mereka menulis 🙂
#BPN30daychallenge2018
Tema : Kenapa Menulis blog
