Gempuran Developer Kakap

Bisnis properti di Makassar dalam lima tahun terakhir berkembang cukup pesat. Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mencatat pembangunan proyek properti,baik residensial,pusat perbelanjaan,maupun pertokoan,makin marak.

PSPI mencatat pertumbuhan sektor properti Makassar berada di posisi ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Hal ini terlihat, rata-rata dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan properti di Makassar mencapai 25% per tahun. Sejak Jusuf Kalla menjabat wapres, pembangunan properti dan infrastruktur di Makassar memang bergerak cepat.

Apalagi dengan rampungnya pembangunan bandara internasional Sultan Hasanuddin, Makassar semakin memantapkan posisinya sebagai pusat pertumbuhan di bagian timur Indonesia. Dengan populasi penduduk hanya satu juta jiwa, pertumbuhan sektor properti di Makassar memang fenomenal. Hal ini terlihat dari lonjakan harga tanah yang melambung gila-gilaan. Bahkan, di tengah Kota Anging Mammiri ini kini ada lokasi yang harga tanahnya sudah menyentuh angka Rp8 juta per meter persegi.

Jika melihat ketersediaan lahan dan daya beli masyarakat yang tinggi, diprediksi sektor properti di Makassar akan terus tumbuh. Apalagi daerah ini memiliki banyak hasil bumi berbasis ekspor yang mendorong lebih cepat perekonomian di daerah ini. Posisi Makassar sebagai pusat investasi,perdagangan, dan pemerintahan di Sulawesi Selatan yang sekaligus lokomotif di KTI sangat menguntungkan.

Faktor ini yang banyak menarik minat pengusaha masuk menanamkan modalnya di kota ini. Banyaknya dana yang masuk ke Makassar yang mencapai Rp4 triliun pada akhir triwulan ini, menunjukan adanya transaksi ekonomi yang sangat terkait dengan pembiayaan proyek swasta dan pemerintah. Ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya daya beli masyarakat daerah, sekaligus semakin banyaknya orang dari daerah lain yang menanamkan uangnya di Kota Makassar, termasuk dibelanjakan dalam sektor properti.

Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB) Makassar Andi Oddang Wawo mencatat realisasi pencairan kredit properti di Kota Makassar sudah lebih dari Rp150 miliar pada semester I/2011.Jumlah ini hampir meningkat dua kali lipat pada periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan pengalamannya melihat tren siklus properti tahun ini,pada 2012 masih akan menjadi saat yang tepat bagi masyarakat untuk membelanjakan uangnya di sektor properti.

“Hal inipun saya prediksi akan kembali lagi terjadi booming properti di Makassar mulai medio 2014,”papar Oddang. Oddang memaparkan, properti yang akan berkembang di Kota Makassar adalah perumahan, toko,kantor,dan perhotelan. Untuk perumahan,Oddang mencontohkan,dukungan program kerja REI Sulawesi Selatan yang akan menyediakan rumah murah secara konsorsium hingga 5.000 unit diharapkan bisa tercapai di 2012.“Sehingga geliat bisnis properti bisa semakin meningkat,” katanya.

Penilaian Oddang ini bisa saja menjadi kenyataan. Apabila melihat kenyataan bahwa beberapa perusahaan properti nasional sudah merambah pasar Makassar. Sebut saja Ciputra Group yang sejak Maret 2009 membangun perumahan Citraland Celebes. Proyek perumahan mewah seluas 30 hektare (ha) tersebut menghabiskan investasi hingga Rp400 miliar. Perum Perumnas juga tengah menjajaki pembangunan apartemen menengah bawah dan rumah tapak (landed house) di Makassar. Nilai investasi proyek itu diperkirakan mencapai Rp250 miliar. Developer lain datang ke Makassar yakni Lippo, GMTD, Agung Padomoro, dan Mutiara Group.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (REI) Sulsel Raimond Afandy menilai masuknya pengembang kelas kakap seperti Citra Land menjadi ukuran kalau bisnis perumahan masih akan tumbuh. “Termasuk Group OSO juga akan investasi di Makassar,” sebutnya. Sementara itu,bisnis properti rumah mewah di Makassar naik 10% per Juni 2011 atau lebih tinggi jika dibandingkan tahun lalu yang hanya 5%.

Kenaikan itu itu dipicu beberapa faktor seperti peningkatan daya beli masyarakat Sulsel, bertambahnya developer, kecenderungan mode,dan lokasi strategis bisnis properti yang ada di Makassar. Tingkat pertumbuhan ekonomi Sulsel yang mencapai 8,7% pada 2010 dinilai sebagai pemicu peningkatan daya beli masyarakat Sulsel.

Pertambahan developer (pengembang) di Makassar menjadi faktor penanda kemampuan daya beli masyarakat untuk memiliki rumah mewah mulai dari harga Rp500 juta ke atas. Kecenderungan mode rumah juga menjadi pemicu tingginya tingkat permintaan rumah mewah di Makassar. Kebanyakan warga Kota Makassar suka mode.Mereka juga kebanyakan ikut-ikutan mode baru.Tren ini pun ditangkap developer dengan membangun rumah minimalis dipadukan dengan konsep mediterania.

Rumah mewah mulai dari harga Rp500 juta ke atas dengan perpaduan konsep minimalis dan mediterania mampu menarik minat banyak konsumen.Lokasi yang digarap para developer rumah mewah adalah di Jalan Hertasning, Tanjung Bunga, Tamalanre, Panakkukang, dan Pettarani. Raimond optimistis, pertumbuhan properti di Makassar akan makin melesat apabila pemerintah menyiapkan infrastruktur utama.

Seperti jalan, jembatan, perkantoran, sekolah,termasuk rumah sakit.Apalagi kalau proyek Maminasata sudah terealisasi, maka properti di Makassar akan booming. “Bisnis perumahan memang masih menjadi idola,” paparnya. Menurut Raimond, pertumbuhan bisnis perumahan di Makassar akan mengikuti pertumbuhan ekonomi di Sulsel atau Makassar.Dia memprediksi, pertumbuhan bisnis perumahan bisa mencapai 10% bahkan 15%,hingga tiga tahun ke depan.

“Dengan catatan,pemerintah mendukung mengembangkan kota baru,”jelasnya. Dengan begitu,investor swasta akan masuk dan mendirikan perumahan, pusat perbelanjaan dan semua kebutuhan masyarakat. Area Sales Manager BRI Sentra Kredit Konsumen (SKK) Makassar Gandhi Sihombing mengatakan, pertumbuhan properti khususnya rumah di Makassar cukup besar.“Itu bisa dilihat dari realisasi kredit kepemilikan rumah (KPR),” sebutnya.

Tahun lalu,total kredit yang disalurkan BRI SKK sebanyak Rp542 miliar.Pada Oktober tahun ini, realisasinya sudah sebanyak Rp702 miliar.Rumah dibiayai jenisnya beragam.Mulai dari kelas bawah yakni Rp100 juta ke bawah,hingga kelas menengah yakni Rp100 juta hingga Rp500 juta.“Bahkan BRI SKK juga masuk ke pembiayaan untuk rumah mewah,”paparnya.

Dari segi persentasi, pembiayaan rumah kelas bawah sebesar 15% dari total pembiayaan tahun 2010 dan 2011.“Sedangkan kelas menengah cukup besar yakni 75%.Sisanya adalah jenis mewah,”paparnya. Rupanya peningkatan KPR tak hanya terjadi di BRI saja.Di BCA,KPRnya meningkat 50% per Juni 2011. Pada semester I/2010, realisasi pencairan kredit baru hanya Rp99 miliar. Sementara pada semester I/2011 meningkat menjadi Rp150 miliar. umran la umbu/suwarny damar

Sumber : Seputar Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × two =